Pemulung Yang Sukses Jadi Orang Kaya

Written by

1. Suwaji

Namanya Suwaji tapi orang akrab memanggilnya Mas Puji. Dia termasuk salah satu juragan sampah di area TPA (tempat pembuangan akhir) Bantar Gebang Bekasi.
Pria yang kini tinggal di kampung Ciketing Bantar Gebang Bekasi ini, telah berhasil menjadi pengusaha sampah dengan omzet 100 juta per bulan. Sangat berbeda jauh dengan penghasilannya 11 tahun silam.
Saat itu, hasil memulung hanya cukup untuk makan sehari-hari. Bertahun-tahun Puji hanya mampu mengumpulkan Rp. 2500 untuk makan nya setiap minggu.

2. Rifan Ardiansah

Siapa sangka pemulung yang satu ini ternyata merupakan salah satu mahasiswa di Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung.
Pemuda ini memang berprofesi ganda. Siang  mahasiswa namun saat malam, dia menjelma menjadi pemulung botol plastik bekas.
Menjadi pemulung terpaksa di lakoni Rifan, karena saat itu modal untuk membangun bisnis rongsokan sangat besar. Rifan banyak belajar dan berguru dari orang-orang yang telah sukses di bisnis rongsokan seperti pemilik CV. Majestic Buana.
Pekerjaan yang di anggap hina itu, kini menjadi jembatan menuju kesuksesan. Kini Rifan menjadi seorang pengusaha muda di bisnis tambak ikan. CV. Rifan Guna Semesta adalah kendaraan bisnisnya.
Kurang lebih 1,5 hektar tanah aset yang di miliki nya. Ditambah 3,5 hektar lahan milik mitra kerjanya.

3. Mohammad Baedowy

Awalnya ia seorang pekerja kantoran yang setiap hari berdasi dan berpenampilan necis. Pada tahun 2000 dia mulai membidik sasaran bisnisnya pada sampah plastik. Ya, dia lah Mohammad Baedowy.
Seorang sarjana dan juga mantan pegawai bank ini tiba-tiba banting setir menjadi seorang ‘pemulung’. Keputusan yang di anggap ‘gila’ oleh beberapa teman dan keluarganya.
Baginya, sampah adalah harta karun. Usaha sampah nya di rintis dengan modal awal 50 juta yang di gunakan untuk membeli mesin dan menyewa lahan.
Saat awal tahun pertama, banyak kendala yang membuatnya hampir putus asa. Mulai dari ujian mental dan masalah teknis menyangkut mesin pengolah sampah miliknya yang sering ngadat.
Bahkan ia sempat pindah kontrakan gara-gara tidak mampu bayar uang sewa, hingga istri dan anak-anaknya ia titipkan pada orang tuanya.

4. John Pieter

Ide awal usaha sampahnya di mulai ketika melihat perbandingan harga gabah dengan limbah plastik. Gabah perkilo di hargai Rp. 600 sedangkan limbah plastik Rp. 1000 perkilo nya.
Sejak saat itulah mahasiswa Institut Teknologi Bandung jurusan Kimia ini mulai mengumpulkan sampah plastik yang banyak berserakan di belakang tempat kos nya.

Article Categories:
info

Comments are closed.

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com