Mengenal Masturbasi Lebih Dalam

Written by

Meraih kenikmatan seks secara individu, baik dilakukan dengan anggota tubuh maupun memakai alat tidak hanya dilakukan oleh laki-laki tapi juga banyak diminati perempuan.

Jika perempuan yang telah memiliki pasangan, berkeluarga atau bahkan punya anak maka hal itu tidak begitu mengkhawatirkan. Yang menjadi masalah, bagaimana bila masturbasi dilakukan oleh gadis atau perawan dan menggunakan alat seperti bantal, guling serta benda halus lainnya.

Apakah hal itu bisa merusak keperawanan atau virginitas? Nah, mungkin sebagian anak remaja belum paham apa yang dimaksud dengan masturbasi? Atau mungkin sudah pada mungkin sudah mengetahui makna dari kata tersebut. Pada kesempatan kali ini saya akan ngebahas mengenai masturbasi dan apadampak bagi mereka yang suka melakukan aktifitas semacam ini.

Apa Itu Masturbasi?

Adalah sebuah fenomena umum dan sering didiskusikan yang terdapat di mana mana, baik pada anak kecil, anak-anak muda, orang dewasa maupun pada mereka yang sudah berkeluarga. Terutama pada golongan masyarakat dengan pendidikan yang lebih tinggi bahkan juga masih terdapat pada orang-orang yang sudah tua.

Istilah masturbasi berasal dari kata latin “manasturbo” yang berarti rabaan atau gesekan dengan tangan (manu). Masturbasi secara umum didefenisikan sebagai rangsangan disengaja yang dilakukan pada organ genital untuk memperoleh kenikmatan dan kepuasan berdasarkan cara melakukannya.

Masturbasi dapat dibedakan menjadi 3 macam, yaitu :

  1. Masturbasi sendiri (auto masturbation); stimulasi genital dengan menggunakan tangan, jari atau menggesek-gesekkannya pada suatu objek
  2. Masturbasi bersama (mutual masturbation); stimulasi genital yang dilakukan secara berkelompok yang biasanya didasari oleh rasa bersatu, sering bertemu dan kadang-kadang meluaskan kegiatan mereka pada pencurian (stealing) dan pengrusakan (vandalism)
  3. Masturbasi psikis, pencapaian orgasme melalu fantasi dan rangsangan audio-visual.

Sedangkan ahli psikologi lainnya Caprio (1973), menggolongkan kegiatan masturbasi ke dalam 2 kelompok besar, yaitu :

  • Masturbasi yang normal, meliputi pembebasan psikologik ketegangan seksual pada masa anak-anak muda yang normal dilakukan tidak berlebihan. Masturbasi yang dilakukan oleh seseorang yang belum kawin, masturbasi yang dilakukan antar pasangan-pasangan suami-istri sebagai selingan dari intercourse yang konvensional.
  • Masturbasi yang neurotic, meliputi masturbasi yang dilakukan terlalu banyak dan bersifat konvulsif, masturbasi antara pasangan-pasangan yang lebih menyukai cara ini daripada intercourse. Masturbasi dengan gejala-gejala kecemasan, rasa salah/dosa yang amat sangat, masturbasi pemuasan yang berhubungan dengan penyimpangan seksual dan yang dapat diancam dipersalahkan oleh hukum.

Masturbasi adalah ungkapan seksualitas yang alami dan tidak berbahaya bagi wanita dan cara yang sangat baik untuk mengalami kenikmatan seksual. Bahkan,beberapa pakar berpendapat bahwa masturbasi bisa meningkatkan kesehatan seksual karena meningkatkan pemahaman seseorang akan bagian-bagian tubuhnya dan dengan cara bagaimana memuaskannya, membangun rasa percaya diri dan sikap dapat memahami diri sendiri.

Gimana sudah pahamkan apa yang dimaksud dengan masturbasi? Kegiatan ini mungkin akan meberikan kamu kesenangan dan gairah akan hal ini, namun perlu untuk kamu ketahui bahwa masturbasi memiliki dampak buruk kalau kamu keseringan melakukannya.

Nah ternyata banyak kaum wanita yang merasa cemas ketika sudah melakukan hal ini dan muncul sebuah pertanyaan yang menghantui pikiran mereka. Lalu beberapa dari mereka pasti ada yang langsug searching google, pasti adakan? Ini nih pertanyaan yang sering mereka ajukan, apa aku udah nggak perawan lagi? Kekmana apa ini dosa besar ya?

Apakah Keseringan Masturbasi Bisa Merusak Keperawanan?

Secara fisik, seorang perawan ditandai dengan utuhnya selaput dara yang berada pada daerah vagina. Hilangnya keperawanan biasanya disertai dengan keluarnya darah dari daerah vagina yang tergantung bentuk dan ketebalan selaput dara saat mengadakan persetubuhan pertama kali.

Meskipun alasan untuk berhubungan seks bisa sangat bervariasi dan kompleks, mencapai orgasme pada umumnya adalah tujuan utamanya. Setiap manusia diciptakan unik dan berbeda, maka dari itu mendeskripsikan satu kalimat untuk menggambarkan orgasme adalah hal yang mustahil. Satu hal yang dapat disetujui oleh banyak orang adalah mencapai orgasme merupakan pengalaman menyenangkan yang sangat intens.

Yang menjadi masalah, bagaimana bila masturbasi dilakukan oleh gadis atau perawan dan menggunakan alat seperti bantal, guling serta benda halus lainnya. Apakah hal itu bisa merusak keperawanan atau virginitas? Duh bahaya banget tuh girl, sebenarnya istilah hilangnya keperawanan atau “tidak virgin”lebih dikaitkan dengan pernah melakukan hubungan seksual dengan lawan jenis atau tidak

Tidak begitu perduli apakah selaput dara sobek atau tidak. Karena ternyata pada wanita muda, selaput dara (hymen) yang merupakan selaput membran mukosa yang berada di depan liang vagina cenderung tipis sehingga mudah robek. Robekan dapat disebabkan karena hubungan seksual atau non-seksual. Keperawanan bisa robek oleh kegiatan olahraga seperti berkuda, bersepeda dan senam.

Jika sering melakukan masturbasi tanpa memasukkan benda apapun ke dalam liang vagina, kecil kemungkinan terjadi robekan selaput darah.

Meskipun masturbasi dilakukan dengan cara yang baik dan benar, namun kebiasaan melakukan masturbasi dapat menimbulkan masalah psikis dimana timbul pikiran terus menerus untuk melakukan masturbasi.

Bingung deh, jadi jika pada umumnya wanita yang melakukan masturbasi secara benar keperawanan tidak akan hilang. Lalu bagimana menandai mereka yang aktif melakukan aktifitas ini?

Tanda Nyata Kalau Kamu Sudah Kebanyakan Masturbasi

Mungkin banyak wanita pada dasarnya yang berfikiran bahwa lebih baik melakukan Masturbasi ketimbang hubungan seks beneran sebelum waktunya, memang lebih baik melakukan masturbasi. Masturbasi merupakan cara pelampiasan hasrat seksual yang cukup aman dan gak merugikan kesehatan. Asal, kamu tahu batasannya. Karena terlalu sering masturbasi bisa berdampak buruk bagi diri kamu sendiri.

1. Muncul rasa sakit

Terlalu banyak melakukan masturbasi bisa bikin area kemaluan kamu lecet lho guys. Dan gak jarang pula pembuluh darah di sekitar kemaluan bisa rusak lantaran terlalu sering dirangsang. Kalau kamu merasakan sakit di area vital kamu, berarti kamu udah overdosis masturbasi tuh.

2. Dilakukan sebagai pelampiasan emosi, bukan nafsu.

Kalau lagi emosi gak stabil dan pinginnya marah, kamu melampiaskannya dengan melakukan masturbasi. Hati-hati, ini juga tanda gawat masturbasi yag gak wajar. Kendalikan diri kamu dan berfikir positif sebelum bertindak untuk melakukannya.

3. Hubungan seksual yang sebenarnya.

Mungkin banyak anggapan yang mengatakan bahwa wanita yang kerap melakukan masturbasi adalah wanita muda yang belum memiliki suami, namun perlu untuk kamu ketahui bahwa meraka yang sudah bersuami kerap melakukan hal ini. Hal hasilnya Gairah seks menurun drastis, tapi keinginan masturbasi justru menggebu-gebu.

4. Muncul penyesalan dan rasa bersalah

Kamu tahu kalau sering-sering masturbasi itu gak baik. Makanya kamu sering nyesel sendiri dan merasa bersalah setelah melakukannya. Sayangnya, perasaan ini cuma muncul sesaat dan keinginan buat masturbasi muncul lagi setelah kamu melihat hal-hal yang merangsang.

5. Gak bisa tidur kalau belum melakukan masturbasi

Terakhir, kamu bakalan sulit tidur di malam hari dan terus kepikiran hal-hal yang berbau seks. Akhirnya kamu pun gak tahan untuk masturbasi lagi dan lagi. Tanpa sadar kamu pun melakukannya hampir tiap hari. Gimana? Ini semacam ritual yang wajib kamu lakukan. Maka dari itu ada baiknya jika perlahan-lahan untuk tidak melakukan masturbasi lagi.

Caranya Agar Berhenti Masturbasi

Mungkinkah kami bisa perlahan-lahan berhenti melakukan ini? Adakah cara yang bisa kami lakukan agar berhenti melakukan hal tersebut atau setidaknya tak terlalu aktif lagi untuk melakukannya? Kenapa tidak pasti ada cara yang baik untuk berhenti melakukan hal ini, seperti kisah seorang wanita yang berjuang melawan kecanduan masturbasi. Mungkin kamu dapat belajar dari pengalamannya dan mengikuti cara-caranya. Untuk itu yuk, kita simak sama-sama.

Seperti yang dijelaskan diatas, bahwa masturbasi ialah salah satu cara untuk melepaskan gairah seksual. Namun ada efek samping dari kebiasaan ini bagi pelakunya akan merasa jiwanya kosong.

Bukan hanya itu, ia menyebabkan kecanduan sampai-sampai ada orang-orang yang kesulitan lepas dari kebiasaan ini. Bukan hanya pria, wanita pun bisa kecanduan masturbasi. Berikut ini kisah seorang wanita klien Candeo, sebuah biro konsultasi bagi orang-orang yang kecanduan seksual.

Perjuangan Melawan Kecanduan Masturbasi

Dulu saya sering merasa down. Dulu saya merasa sendirian, jauh dan tidak terhubung dengan orang-orang. Dulu saya tidak punya hubungan yang memuaskan dan sering bertanya-tanya, “Bisakah aku punya hubungan seperti itu?”

Dulu saya terkadang pergi dengan teman-teman atau berkencan dengan seseorang di satu pesta, namun tidak pernah melewati beberapa kali kencan saja. Satu-satunya kepuasan seksual yang saya dapatkan dulu adalah saat saya masturbasi. Namun hal tersebut hanya memberi saya kepuasan sesaat, setelah itu saya langsung merasa kosong dan down lagi.

Terkadang saya masuk ke situs online chat untuk mencoba merasa terhubung dengan pria. Terkadang percakapannya berbau seksual dan membuatku merasa terangsang. Namun pada akhirnya, saya merasa semakin kesepian dan kosong. Saya juga merasa kalau saya tidak melakukan aktifitas itu, saya tidak bisa tidur.

Terkadang setelah bekerja seharian atau saat saya stres, saya tidak sabar ingin cepat pulang agar bisa “melepaskan” dorongan ini. Saya pikir hal ini baik, normal, bahkan saya sering baca kalau kebiasaan masturbasi ini “sehat.”

Tapi kalau hal ini sehat, mengapa saya sering merasa down setelah melakukannya. Bahkan terkadang saya malah merasa “harus” melakukannya (efek yang tidak jauh berbeda dengan sakau narkoba). Pernah sekali saya mencoba untuk berhenti.

Segera setelah saya mengambil keputusan itu, tiba-tiba saya merasa hal itulah yang harus saya lakukan. Saya merasa tidak bisa mengendalikan diri saya sendiri hingga akhirnya saya menyerah untuk berhenti. Ini membuat saya semakin bertanya-tanya tentang dampak onani.

Saya curhat ke seorang rekan kerja saya wanita juga, tentang hal ini. Dia selalu terbuka tentang hal-hal semacam ini. Dia bilang dia sudah lama masturbasi. Dia bilang kalau dia lebih mudah mencapai klimaks (orgasme) saat masturbasi daripada saat berhubungan intim dengan pasangannya.

Teman saya ini bilang hal ini sudah menyebabkan masalah dalam hubungan mereka karena suaminya merasa tidak bisa memuaskan teman saya ini. Teman saya berpikir kalau ada yang salah dengan dirinya.

Hal ini membuatku semakin khawatir. Kucoba lagi untuk berhenti namun tak sanggup. Saya menjadi sangat gugup dan terobsesi untuk berhenti. Namun semakin saya ingin berhenti, efeknya justru kebalikannya. Saya malah semakin sering melakukannya. Ujung-ujungnya saya merasa semakin mudah gugup. Pada titik ini, saya menyadari kebiasaan ini sudah kelewatan. Aktifitas inipun sudah bukan pelepasan dari stres. Saya harus melakukan sesuatu untuk mengatasi hal ini.

Akhirnya pun ia mengikuti program yang dirancang oleh Candeo. Dalam program tersebut, ia belajar cara berhenti dari kecanduan masturbasi, adapun cara-caranya sebagai berikut.

Ada 3 langkah yang ia lakukan:

  • Belajar tentang proses yang terjadi di otaknya sampai ia membentuk kebiasaan tersebut.
  • Belajar tentang mengapa sangat sulit untuk berhenti masturbasi.
  • Belajar melatih ulang otaknya agar ia bisa berhenti, bisa mengontrol dirinya dan mengelola stresnya dengan lebih baik.

Untuk mengetahui proses di dalam otak yang membuat kecanduan masturbasi.

Melalui 3 langkah tersebut, ia juga belajar tentang membangun hubungan yang lebih baik dan juga merasa lebih percaya diri. Berikut ini penuturannya.

Tapi apa yang tidak saya sadari adalah saya juga belajar mengapa selama ini saya tidak punya hubungan yang memuaskan. Setelah itu, saya mendapat tools untuk memperbaiki imej diri saya sendiri. setelah itu saya belajar cara mendapathubungan yang penuh arti dan terhubung.

Apabila kita menyibukkan diri dengan melakukan aktivitas yang seimbang antara fisik, mental dan spiritual saya yakin dorongan seksual akan teralihkan. Hindari melihat atau membaca buku, majalah, atau website yang berisikan konten harampornografi. Dengan demikian kita tidak akan selalu terangsang, sehingga dapat menahan diri untuk tidak selalu melakukan masturbasi.

Dan perlu kamu ketahui bahwa ternyata masturbasi merupakan aktivitas seksual yang paling sering dilakukan di dunia ini. Sebuah studi menunjukkan bahwa sekitar 89 persen wanita pernah melakukannyanya. Dan muncul pertanyaan mengenai saat usia berapa sajakah wanita mulai suka melakukan hal semacam ini?

Yah mungkin pertanyaan ini agak sedikit nyelenah, namun tak ada salahnyakan jika mengetahui hal tersebut. Bukan cuma orang dewasa, anak kecil bahkan yang masih balita juga merasakan kenikmatan saat memegang-megang kelaminnya sendiri. Meski begitu, tidak semuanya bisa dikatakan sedang masturbasi. Sejak umur berapa orang kenal masturbasi?

Bisakah anak kecil masturbasi?

Seorang pakar rehabilitasi seksual, dr Ferryal Loetan, ASC&T, SpKFR, MKes mengatakan bahwa masturbasi atau kegiatan menemukan kenikmatan seksual tanpa pasangan baru bisa dilakukan setelah memasuki masa puber. Biasanya berkisar antara usia 12 hingga 13 tahun.

Pada masa itu, menurut dr Ferryal para remaja mengalami pertumbuhan dan perkembangan hormonal yang sangat pesat. Akibatnya adalah daya rangsang seksual dan libido mulai muncul, baik dengan adanya rangsangan maupun secara spontan seperti saat mimpi basah.

Rangsangan-rangsangan tersebut tentunya membutuhkan pelepasan, misanya dengan hubungan seks hingga tuntas atau orgasme. Tapi pada umur yang masih sangat belia, kebanyakan remaja tentu belum memiliki pasangan tetap untuk menyalurkan hasrat seksualnya. “Akibatnya mereka akan mencoba-coba untuk merangsang alat kelaminnya dengan berbagai cara hingga akhirnya melakukan masturbasi sampai terpuaskan keinginan seksualnya.

Meski membenarkan bahwa anak kecil sudah punya naluri untuk memegang-megang alat kelaminnya sendiri sejak balita, dr Ferryal tidak sependapat kalau perilaku tersebut dikategorikan masturbasi. Menurutnya anak kecil belum bisa merasakan sensasi kenikmatan seksual.

“Yang ada mereka merasa nyaman bila ada elusan atau rabaan sesuai dengan perkembangan fisiknya. Pada balita ada yang disebut fase anal dan fase genital sehingga sering kita lihat anak itu memegang-megang alat kelamin karena merasa nyaman, tetapi bukan karena rangsang seksual,” lanjut dr Ferryal.

Namun dalam praktiknya, beberapa anak mendapatkan lebih dari sekedar kenikmatan tetapi juga kepuasan saat memegang alat kelamin meski belum mengenal kenikmatan seksual. Akibatnya tanpa disadari, begitu mengenal seks perilaku ini langsung berubah menjadi masturbasi.

Kesimpulannya

Nah, jadi kamu bisa mengambil sedikit kesimpulan mengenai hal tersebut. Yah masturbasi termasuk aktivitas yang normal dan mungkin sedikit memiliki manfaat yakni, dapat meredamkan stress dan meningkatkan produksi endorfin.

Namun jika terlalu sering melakukannya dapat menjadi gejala dan gangguan yang tidak lazim yang juga dapat membahayakan kehidupan seksual kamu bersama pasangan. Apalagi pada saat itu kamu sudah memasuki tahap yang serius yakni, ketagihan akan aktifitas tersebut, maka ikutilah cara yang dijelaskan diatas. Atau segera konsultasi ke dokter, agar kebiasaan kamu tersebut segera hilang.

Nah, demikianlah artikel pada hari ini semoga kamu dapat mengerti mengenai penjelasan masturbasi bagi wanita dan selamat membaca guys.

Article Categories:
kesehatan

Comments are closed.

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com